Masuk

Pendidikan

FBSH Universitas Hamzanwadi Perkuat Implementasi Kurikulum OBE Jelang Semester Ganjil 2026/2027

Lombok Timur — Fakultas Bahasa, Seni, dan Humaniora (FBSH) Universitas Hamzanwadi menggelar Workshop Penguatan dan Implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) sebagai bagian dari persiapan menghadapi perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Microteaching 2 Universitas Hamzanwadi tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum. sebagai narasumber dan diikuti dosen dari Program […]

Lombok Timur — Fakultas Bahasa, Seni, dan Humaniora (FBSH) Universitas Hamzanwadi menggelar Workshop Penguatan dan Implementasi Kurikulum Outcome-Based Education (OBE) sebagai bagian dari persiapan menghadapi perkuliahan Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.

Kegiatan yang dilaksanakan di Ruang Microteaching 2 Universitas Hamzanwadi tersebut menghadirkan Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum. sebagai narasumber dan diikuti dosen dari Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP), serta Pariwisata.

Dalam sambutannya, Dekan FBSH Universitas Hamzanwadi, Dr. Muh. Jaelani Al-Pansori, M.Pd., menyampaikan bahwa workshop tersebut menjadi bagian dari langkah fakultas mempersiapkan pelaksanaan pembelajaran pada semester baru. Penguatan pemahaman terhadap kurikulum menjadi penting agar dosen tidak hanya menyiapkan perangkat perkuliahan, tetapi juga memahami arah dan capaian pembelajaran yang hendak diwujudkan.

Kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan kita menyambut Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027. Karena itu, kita perlu memastikan pelaksanaan pembelajaran benar-benar dipersiapkan dengan baik, termasuk pemahaman terhadap kurikulum OBE, ujarnya.

Workshop kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Prof. Dr. H. Khirjan Nahdi, M.Hum. Dalam penyampaiannya, Prof. Khirjan mengajak para dosen untuk kembali menempatkan persoalan akademik sebagai salah satu fokus utama dalam menjalankan tugas di perguruan tinggi.

Menurutnya, keterbatasan kapasitas yang dimiliki setiap individu maupun institusi menuntut adanya kemampuan menentukan prioritas. Perguruan tinggi, khususnya dosen, perlu memberikan perhatian pada hal-hal yang secara langsung berhubungan dengan standar dan kualitas akademik.

Kita selalu disibukkan dengan urusan-urusan yang tidak penting, padahal kapasitas kita terbatas. Kita seharusnya bisa fokus pada standar akademik. Maka, Bapak dan Ibu harus mengerti dengan barang ini, OBE, tegas Prof. Khirjan di hadapan peserta workshop.

Pernyataan tersebut menjadi pengantar untuk melihat OBE bukan sekadar sebagai istilah baru dalam pengembangan kurikulum. Pemahaman terhadap OBE diperlukan agar implementasinya tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi benar-benar hadir dalam proses pembelajaran yang dilakukan dosen.

Prof. Khirjan juga menekankan adanya hubungan antara pengetahuan, pemahaman, kesadaran, dan tindakan. Menurutnya, perubahan dalam praktik akademik harus dimulai dari pengetahuan yang kemudian berkembang menjadi pemahaman dan kesadaran.

Anda akan paham kalau Anda tahu. Anda akan sadar kalau Anda paham, dan Anda akan berbuat kalau Anda sadar, ungkapnya.

Dalam konteks pembelajaran, Prof. Khirjan kemudian mengarahkan perhatian peserta pada salah satu prinsip mendasar OBE, yakni orientasi terhadap mahasiswa. Menurutnya, pembicaraan mengenai OBE pada akhirnya bukan semata-mata tentang apa yang ingin dilakukan atau disampaikan oleh pengajar, melainkan tentang kebutuhan mahasiswa dalam proses pembelajaran.

Kita berkenalan dengan OBE ini berbicara tentang kebutuhan mahasiswa, bukan kebutuhan orang yang mengajar, jelasnya.

Pandangan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai pusat dalam perencanaan pembelajaran. Dosen tidak hanya menentukan materi yang akan disampaikan, tetapi perlu melihat capaian yang harus dimiliki mahasiswa setelah mengikuti suatu mata kuliah. Karena itu, proses pembelajaran, aktivitas perkuliahan, dan asesmen perlu diarahkan pada ketercapaian hasil belajar yang telah ditetapkan.

Melalui workshop tersebut, para dosen FBSH didorong untuk semakin memahami keterkaitan antara kurikulum, capaian pembelajaran, pelaksanaan perkuliahan, dan evaluasi hasil belajar mahasiswa. Penguatan pemahaman tersebut menjadi penting menjelang dimulainya Semester Ganjil Tahun Akademik 2026/2027.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya FBSH Universitas Hamzanwadi dalam memperkuat budaya akademik dan memastikan implementasi kurikulum OBE dapat diterapkan secara lebih terarah dalam proses pembelajaran. Dengan pemahaman yang semakin kuat, implementasi OBE diharapkan tidak hanya terlihat pada dokumen kurikulum dan perangkat pembelajaran, tetapi juga tercermin dalam praktik perkuliahan yang berorientasi pada apa yang perlu diketahui, dipahami, dan mampu dilakukan mahasiswa sebagai hasil dari proses pendidikan yang ditempuhnya.

Tentang Penulis

Nuria Hikami